Kegiatan Bedah Buku

Mereka yang gemar menuduh musyrik kafir dan sesat terhadap kaum muslimin dengan sebutan Quburiyyun, Musyrikun, Ahli Bid’ah. ARGUMEN AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH membuktikan bahwa tudingan mereka ini sama sekali tidak benar. Semua pembuktian dipaparkan dengan bahasa yang lugas, meyakinkan dan tanpa basa basi.

Peran NU dalam Kabinet Ali Sastroamijoyo I

Tokoh politisi NU yang pernah menjabat Panglima Laskar Hizbullah, Sekertaris Pucuk Pimpinan TNI serta Ketua Seksi Hankam BP KNIP ini pun menjadi orang pertama NU berposisi tertinggi di lembaga eksekutif.

Pesan Moral PBNU Jelang Pilkada Serentak 27 Juni

Pilkada serentak merupakan hajat politik yang besar dan penting untuk kehidupan berbangsa dan bernegara, karena bukan saja berlangsung merata di Indonesia, tetapi juga dimaknai sebagai persiapan politik menghadapi Pemilu 2019 tahun depan.

Kisah Mbah Manab Lirboyo, Mbah Kholil Bangkalan, dan Fakir Miskin

Manab—nama kecil KH Abdul Karim—saat mondok di Syaikhona Kholil merangkap kerja sebagai buruh, termasuk buruh memanen padi dengan ani-ani kepada masyarakat sekitar pesantren.

Saat Belanda Mengkriminalisasi Pesantren Tebuireng

Dari Pesantren Tebuireng ini, kemudian dihimpun calon-calon pejuang Muslim yang tangguh, yang mampu memelihara, melestarikan, mengamalkan, dan mengembangkan ajaran Islam ke seluruh pelosok Nusantara.

Keutamaan Bersholawat

رَبِّي إنَّها ليلةُ الجمعة فيسّرْ لنا الخيرَ فيها وأسعد قلوبنا، واشرحْ صدورنا، واقضِ حوائجنا.

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَنْ صَلّى عَلَيَّ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةِ الجُمُعَةِ مائةَ مرة قَضَى اللهُ لَهُ مِائَةَ حَاجَةٍ سَبْعِينَ مِنْ حَوَائِجِ الآخِرَةِ، وَثَلاَثِينَ مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا" أخرجه البيهقيُّ وغيرُه.

نَسْألُ الله أنْ يَتَقبَّلَ مِنَّا ومِنْكُم صَالِحَ الأعْمَال، أُذَكِّركُم كالعَادة يا سادة بالصَّلاة عَلَى النَّبِيِّ وبإخْلَاصِ النِّيَّةِ للهِ تَعَالَى

اللَّهُمَّ صَلِّ على مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ وَأزْواجِهِ أُمَّهَاتِ الْمُؤمنينَ وَذُرِّيَتِهِ وأَهْلِ بَيْتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلى ءالِ إِبْرَاهيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

رزقكم الله رؤيا حبيبه مُحَمَّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وزيارته ومجاورته والموت في بلده وشفاعته والحشر معه وشربة من حوضه وصحبته في الفردوس الأعلى

اللَّهُمَّ اجمعنا بمُحَمَّدٍ واحشُرْنا تحتَ لواءِ مُحَمَّدٍ وثبِّتنا على عقيدة مُحَمَّدٍ وعطِّف علينا قلب مُحَمَّدٍ اللَّهُمَّ صَلِّ على مُحَمَّدٍ صلاةً تَقضِي بها حاجاتِنا وتُفرِّجُ بها كُرُباتِنا وتكفِيْنا بها شرَّ أعدائِنا إنّك يا رَبَّنا على كُلِّ شىءٍ قدير.

ليلة جمعة مباركة

لا تنسوا الإكثار مِنَ الدُّعاء والصَّلاة على الرَّسُولِ الأعظم عليه الصَّلاةُ والسَّلامُ

جَعَلَ الله لَكُم في هذه الليلة ليلة الجمعة المباركة وَمَا بَعدَها رَحمَةً وَهَنَاء، وَأَبعَدَ عَنكُم ضِيقَ المعِيشَةِ وَالعَنَاء، وَجَعَلَ عَيشَكُم في سَعَةٍ وَرَخَاء، وَرَفَعَ عَنكُم كُلَّ بَلاء، وَسَلَّمَكُم مِن كُلِّ دَاءٍ، وَأَبدَلَ لَكُمُ الكَدَرَ بِالصَّفَاء، وَاستَجَابَ لَكُم كُلَّ دُعَاء، وَحَقَّقَ لَكُم كُلَّ رَجَاء، وَجَزَاكُم خَيرَ الجَزَاء.

قَالَ الشَّافِعِيُّ فِي الْأُمِّ: وَبَلَغَنَا أَنَّهُ كَانَ يُقَالُ: إنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِي خَمْسِ لَيَالٍ: فِي لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ، وَلَيْلَةِ الْأَضْحَى، وَلَيْلَةِ الْفِطْرِ، وَأَوَّلِ لَيْلَةٍ فِي رَجَب، وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ.

Share:

Kajian Islam " Fiqh Ibadah"

          Dalam alur sejarah pemikiran Islam , selain ilmu alat; nahwu dan shorof, fiqh merupakan primadona, di mana hampir setiap saat dan waktu ilmu tersebut dikaji dan diteliti. Ihwal demikian sangatlah dimaklumi mengingat ilmu fiqh berhubungan erat dengan tingkah laku mukkalaf (orang yang terbebani hukum) yang menyangkut persoalan ibadah, mu’amalah, jinayah (hukum pidana), siyasah (politik) dan al-akhwal as-syahsiyah (keluarga) dan bahkan dalam nalar keilmuan pesantren tolak ukur kealiman seseorang ditentukan oleh kedalamannya dalam ilmu fiqh. Standarisasi kealiman ini bukanlah tidak beralasan mengingat kata fiqh sendiri sebelum dijadikan sebagai kedisiplinan ilmu lebih berorientasi pada orang yang paham akan agama, siapapun yang paham dengan agama akan disebut faqih. Inilah yang dapat dipahami dari karya monumentalnya Imam Hanafi yang diberi judul Fiqh al-Kabir. 


          Atas dasar itulah, kajian tentang fiqh banyak dilakukan oleh para ulama dari mulai yang sangat sederhana kajiannya sampai yang sangat dalam. Di antara kitab-kitab fiqih yang biasa dikaji di pesantren adalah Safinah an-Najah, Sulam at-Taufiq karya Syeikh Nawawi al-Bantani, fathul muin karya Syeikh Zainuddin murid dari Ibnu Hajar al-al-Haitami dan kitab Fathul Qorib. Kitab yang disebut terakhir ini ditulis oleh Syeikh Abu Syuja (433-539 H) seorang ahli fiqh abad empat Hijriyyah yang bermadzhab Syafi’i.


          Dalam kitabnya, Abu Syuja menjelaskan latar belakang disusunnya kitab tersebut yaitu merupakan respon dirinya atas permintaan sahabat dan santri-santrinya yang menghendaki beliau menulis kitab fiqh madzhab Syafi-i dalam rangka memberikan kemudahan bagi para pengkaji yang masih pemula, sebagaimana harapan beliau dalam memberikan nama kitab tersebut dengan judul fathul qorib.


          Kitab fathul qorib sendiri secara populer disebut dengan ghoyatul mukhtasar dan nihayatul mukhtasar (paling sempurnanya ringkasan). Hal ini dikarenakan muatan isi kajiannya, di mana kitab yang sangat sederhana ini tidak hanya mengkaji persolan ubudiyah yang sifatnya makhdoh tetapi mengkaji berbagai persoalan fiqh. Inilah yang membedakannya dengan kitab-kitab fiqh yang kecil lainnya. Meski dalam sistematika pembahasannya syiekh Abu Syuja tidak berbeda dengan kitab-kitab fiqh lainnya. Syeikh Abu Syuja terlebih dahulu menjelaskan tentang thoharoh sebelum kemudian secara terperinci dan konprehensif (menyeluruh) membahas persoalan yang berkaitan dengan ibadah, muamalah, al-akhwal as-syahsiyah, jinayah dan siyasah. Sistematika ini sangatlah beralasan mengingat thoharoh menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi setiap mukkalaf dalam menjalankan ibadah yang berhubungan dengan sang kholik sehingga logikanya sebelum beribadah maka seorang muslim harus tahu terlebih dahulu bagaimana caranya bersuci karena bersuci termasuk syarat dari ibadah yang berarti sah dan tidaknya ibadah seseorang bergantung pada benar dan tidaknya bersuci.


          Meski Syeikh Abu Syuja memulai dengan thoharoh dan banyak memuat kajian tentang ibadah makhdoh bukan berarti yang lainnya tidak penting, semua yang dikaji di dalam kitab ini menjadi penting semuanya untuk dikaji termasuk yang berkaitan dengan jual beli (buyu’), gadai menggadai (al-Rahnu), pinjam meminjam (Isti’arah), kerjasama kerja dan harta (Syirkah), dan persoalan muamalah dan hukum perdata lainya yang menyangkut fiqh munakahat, faroid, dan hukum pidana (jinayah), politik (siyasah) serta bahkan dengan persoalan perbudakan. Persoalan ini dianggap penting karena berkaitan dengan tata nilai sosial dalam menjamin hak hidup sebagai makhluk Allah.
        
          Dalam menentukan hak hidup makhluk, Imam al-Ghazali berkomentar bahwa struktur sosial yang tidak dibangun dengan lima prinsip kemanusiaan maka akan mengalami kehancuran. Lima prinsip itu adalah :
  1. Hifdzu Ad-din (menjaga agama/menjamin kebebasan beragama).
  2. Hifdzu ‘Aql (menjaga akal/menjamin kebebasan berfikir).
  3. Hifdzu ‘Aql (menjaga akal/menjamin kebebasan berfikir).
  4. Hifdzu An-mal (menjaga kekayaan/menjamin kekayaan). 
  5. Hifdzu An-nafs (menjaga jiwa/menjamin hak hidup).
  6. Hifdzu an-nasl (menjaga keturunan). Oleh Imam as-Syatibi lima prinsip ini dikenal dengan istilah maqasid as-syari’ah (tujuan dari agama).
          Untuk menciptakan lima prinsip tersebut maka sudah selayaknya orang Islam mengkaji berbagai literatur klasik yang satu di antaranya adalah kitab fathul qorib. Semoga Allah memberikan ampunan dan kasih sayang-Nya atas syeikh Abu Syuja dan juga semoga Allah membuka hati semua orang yang mengkaji kitabnya sehingga menjadi bermanfaat. Amien
Share:

Saat Belanda Mengkriminalisasi Pesantren Tebuireng

Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur merupakan mercusuar perjuangan umat Islam dan rakyat Indonesia yang didirikan Hsdlratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari pada 1899 M beberapa waktu setelah kepulangannya dari Makkah. Komitmen, janji, dan sumpah Kiai Hasyim saat di Multazam tidak hanya untuk mengembangkan ilmu agama Islam, tetapi juga membebaskan bangsa Indonesia dari kungkungan penjajahan.

Dari Pesantren Tebuireng ini, kemudian dihimpun calon-calon pejuang Muslim yang tangguh, yang mampu memelihara, melestarikan, mengamalkan, dan mengembangkan ajaran Islam ke seluruh pelosok Nusantara. Kiai Hasyim juga berhasil mengawali perjuangan kultural rakyat Indonesia melalui pesantren.

Dari fakta tersebut, tidak heran ketika gerik-gerik KH Hasyim Asy’ari tidak pernah luput dari sorotan spionase atau mata-mata Belanda kala itu. Resistensi ini menambah tantangan dakwah Pesantren Tebuireng yang makin tidak mudah. Karena di awal pendiriannya saja, Kiai Hasyim harus menghadapi berbagai macam rintangan, bahkan marabahaya yang tidak jarang mengancam nyawanya karena beliau harus menghadapi para jawara setempat.

Belanda memahami, Kiai Hasyim Asy’ari merupakan sosok ulama besar yang kemasyhurannya telah diakui oleh tokoh-tokoh di daerah lainnya. Menyerang secara frontal justru akan menjadi blunder bagi eksistensi kolonial. Sebab, itu berbagai macam cara dilakukan oleh Belanda untuk menghilangkan jejak Pesantren Tebuireng, sebagai basis dan wadah pergerakan nasional. Upaya politisasi oleh Belanda terus diupayakan dengan sejumlah tuduhan-tuduhan.

Choirul Anam dalam Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama (2010) mengungkapkan bahwa beberapa pembesar Belanda seringkali menyambangi Tebuireng dengan membawa tuduhan bermacam-macam. Tuduhan yang biasa dilontarkan ialah Pesantren Tebuireng telah mengadakan kerusuhan, pemberontakan, dan pembunuhan. Setiap terjadi pembunuhan di sekitar Jombang, pasti santri Tebuireng yang menjadi sasaran kriminalisasi oleh Belanda.

Tuduhan tidak berdasar dan mengada-ada tersebut bertujuan mengerdilkan peran Pesantren Tebuireng. Dari situ Pemerintah Hindia-Belanda kerap kali mengirimkan semacam teguran yang ada pada intinya meminta KH Hasyim Asy’ari menghentikan seluruh kegiatan dan aktivitas pesantren.

Melihat perlakuan Hindia-Belanda yang semakin kentara ingin menghentikan peran Pesantren Tebuireng, Kiai Hasyim Asy’ari tidak terpengaruh, tidak pula khawatir. Bahkan kondisi tersebut makin memperkuat daya perjuangan Kiai Hasyim dan para santrinya untuk betul-betul melawan penjajah. Perlakuan Belanda kepada Tebuireng tersebut juga makin membuka mata masyarakat akan perlawanan terhadap penjajah sehingga mereka juga tergerak ikut berjuang.

Pesantren Tebuireng semakin masyhur di telinga masyarakat akan perlawanan sosok Kiai Hasyim Asy’ari terhadap Belanda. Hal itu membuat pihak Belanda merasa perlu untuk mencari jalan pintas dalam menghentikan kegiatan Pesantren Tebuireng.

Choirul Anam mencatat, sekitar tahun 1913 Pondok Pesantren Tebuireng diserang secara membabi buta oleh Belanda. Bangunan pondok dihancurkan hingga berkeping-keping. Kitab-kitab agam yang diajarkan di pondok pesantren dirampas dan sebagian dimusnahkan. Namun, sampai sejauh itu tidak dijelaskan mengenai jatuhnya korban jiwa.

Keganasan penjajah Belanda tersebut didukung oleh pemberitaan bohong untuk melegitimasi gerakannya. Karena pemberitaan sepihak oleh Belanda yang beredar ialah Pesantren Tebuireng merupakan markas pemberontak dan pusat ekstrimis Muslim. Padahal, itu tidak lain karena Pesantren Tebuireng pimpinan KH Hasyim Asy’ari menjadi ancaman eksistensi kolonialisme Belanda.

Atas kekejian dan fitnah tersebut, Kiai Hasyim tidak satu langkah pun mundur untuk melawan penjajahan. Karena keganasan Belanda tersebut sekaligus menjadi gambaran kekejaman mereka selama ini terhadap bangsa Indonesia. Sebab itu, kepada para santri, Kiai Hasyim Asy’ari berkata: “Kejadian ini justru menambah semangat kita untuk terus berjuang menegakkan Islam dan Kemerdekaan (Indonesia) yang hakiki”. (Fathoni)
Share:

Peringatan Tahun Baru Islam 1440 H

Assalamu alaikum wr wb.
Untuk warga Tarakan khususnya warga Kampung Bugis kami mohon kehadiranya nanti malam dalam acara memperingati tahun baru Islam 1440 H .

Dan sebelumnya kami segenap jajaran pengurus masjid Al mujahidin dan Pengurus LDNU Kota Tarakan mengucapkan terima kasih ...
Wassalamu alaikum wr wb.
Share:

Kisah Mbah Manab Lirboyo, Mbah Kholil Bangkalan, dan Fakir Miskin

Di antara hal yang paling berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang adalah peran seorang guru. Dalam persepakbolaan, orang yang bermain sepak bola selama 20 tahun, namun tidak pernah mempunyai pelatih, kemampuannya akan biasa-biasa saja, sepintar apa pun dia dan meskipun ia setiap hari berlatih dan bermain sepak bola.

Berbeda dengan orang yang bermain sepak bola di bawah asuhan pelatih. Ia akan mempunyai skill lebih baik daripada orang yang tidak mempunyai pelatih sama sekali, walaupun terkadang dalam sehari atau seminggu dia tidak bermain sepak bola di lapangan sama sekali.

Bahkan dengan hal-hal yang tidak penuh merumput di lapangan, seperti sehari ini hanya dribbling, besok lagi hanya sepak pojok, besok lagi lari cepat dan sebagainya, ia akan mempunyai kemampuan lebih daripada pemain yang tidak mendapatkan arahan pelatih, sepintar apapun orang tersebut.

Apalagi orang yang belajar agama, ilmu untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah subhânahu wata’ala, tentu sangat membutuhkan pelatih yang andal. Dalam hal ini guru atau kiai yang tepat bisa mendidik dengan sempurna. Apa pun yang diperintahkan guru, harus ia patuhi dan laksanakan oleh murid.

Seperti sikap KH Abdul Karim (Mbah Manab Lirboyo) di hadapan gurunya,  Syaikhona Kholil Bangkalan. Sehingga Pesantren Lirboyo yang sebesar sekarang, di antaranya merupakan hasil dari tirakat kiainya saat mereka menjadi santri di masa silam.

Manab—nama kecil KH Abdul Karim—saat mondok di Syaikhona Kholil merangkap kerja sebagai buruh, termasuk buruh memanen padi dengan ani-ani kepada masyarakat sekitar pesantren. Ani-ani atau ketam adalah sebuah pisau kecil yang dipakai untuk memanen padi. Dengan ani-ani, tangkai bulir padi dipotong satu-satu.

Setelah selesai, Abdul Karim mendapatkan pembagian upah menuai padi yang berdasarkan banyak sedikitnya padi yang dipotong tersebut, atau biasa dikenal dengan sebutan bawon.

Saat ia sudah mendapatkan bawon, tiba-tiba Syaikhona Kholil memerintahkan kepada santrinya bernama Abdul Karim tersebut. “Nak, bawon kamu nggak usah kamu makan ya. Kamu makan di belakang saja, ngikut sama Ibu Nyai! Bawon itu kasihkan kepada fakir miskin!”

Seperti sapi yang dicocok hidungnya. Hasil jerih payah di bawah matahari nan terik di atas sawah, ia bagi semuanya kepada fakir miskin tanpa sisa.

Dan benar, sebagaimana yang kita saksikan, atas ketulusan hati KH Abdul Karim muda dengan kini, kita dapat menykasikan panen keberkahan yang terlimpahkan kepada beliau dengan Pesantren Lirboyo yang ntampak seperti sekarang ini.

Kisah di atas ini disampaikan oleh KH Agus Ali Masyhuri, Tulangan, Sidoarjo. (Ahmad Mundzir)
Share:

Peran NU dalam Kabinet Ali Sastroamijoyo I

Telah lewat tengah malam,  Jumat, 31 Juli 1953, Kabinet Ali Sastroamijoyo I akhirnya terbentuk setelah melewati 58 hari penuh perundingan alot antar-partai besar negeri ini. Untuk pertama kalinya NU mendapat hingga 3 kursi dengan KH Zainul Arifin menduduki kursi Wakil Perdana Menteri (Waperdam) II.

Tokoh politisi NU yang pernah menjabat Panglima Laskar Hizbullah, Sekertaris Pucuk Pimpinan TNI serta Ketua Seksi Hankam BP KNIP ini pun menjadi orang pertama NU berposisi tertinggi di lembaga eksekutif.

Selama masa tugasnya dalam kabinet, kegiatan-kegiatan Zainul Arifin diwarnai dengan timbulnya masalah-masalah keamanan baik yang ditimbulkan oleh DI/TII maupun urusan internal TNI, pelaksanaan Konferensi Asia Afrika di Bandung, dan persiapan penyelenggaraan pemilu yang pertama.

Kabinet tanpa Masyumi

Begitu Kabinet Wilopo bubar, Masyumi langsung mendesak pembentukan kabinet presidentil di bawah wapres Hatta. PNI menolak sekaligus mencurigai kabinet demikian hanya bakal menguntungkan Masyumi dan PSI, dua partai sangat dekat dengan Wapres. Presiden Sukarno sendiri menentang karena UUD 1950 tidak mengenal kabinet presidentil.

Dia kemudian menunjuk formatur sampai lima kali: Mohammad Roem (Masyumi) dan Sarmidi Mangunsarkoro (PNI), kemudian Mukarto Notowidigdo (PNI) hingga dua kali diberi kesempatan, serta terakhir Burhanuddin Harahap (Masyumi). Semuanya gagal berkoalisi membentuk pemerintahan baru. Akhirnya, keinginan membangun koalisi kuat antara dua partai terbesar itu pun ditinggalkan.

Setelah formatur diserahkan ke Wongsonegoro dari partai kecil PIR di luar dugaan banyak orang, malah tercapai kesepakatan antara PNI, PIR dan NU. Maka, kabinet Ali I pun lahir setelah negara dalam keadaan krisis pemerintahan selama hampir dua bulan. Partai Masyumi yang tidak terwakili dalam kabinet baru, menjadi oposisi di parlemen.

Selama berlangsungnya kabinet ini, NU tertantang untuk membuktikan kemampuannya ikut serta dalam menjalankan roda pemerintahan. Nyatanya, kabinet berhasil bertahan hingga dua tahun dan menjadi kabinet terlama selama era Demokrasi Parlementer (1950-1959).

Menjawab Tantangan

Zainul Arifin salah satu pencetus perpisahan NU dari Partai Masyumi dan mendirikan partai tersendiri pada 1 Mei 1952, karena Masyumi terus menerus melecehkan para ulama tradisionalis NU. Otomatis kinerjanya dalam kabinet menjadi sorotan, terlebih lagi karena NU telah kehilangan politisi unggulan lainnya, KH Wahid Hasyim yang wafat pada 19 April 1953.

Zainul sendiri yang sebelumnya memang belum pernah menjadi menteri beberapa kali dipertanyakan kemampuannya. Misalnya ketika dia meminta Perdana Menteri untuk melimpahkan kewenangan masalah keamanan terkait gerakan-gerakan subversif DI/TII, Ali Sastroamijoyo tidak memenuhinya.

Padahal, Iwa Kusumasumantri yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan beraliran kiri seringkali mengambil tindakan tidak persuasif dalam menghadapi para pemberontak. Sebagai mantan Panglima Hizbullah yang mengenal pimpinan DI/TII Arifin menginginkan tindakan yang lebih persuasif. Lagipula intimidasi yang dilancarkan Menhan berdampak pula terhadap warga NU yang tidak ikut memberontak sama sekali.

Bersama Menteri Agama KH Masjkur yang juga dari NU, Zainul Arifin kemudian mencanangkan pemberian gelar waliyul amri dharuri bissyaukah terhadap Presiden Sukarno sebagai pemimpin yang sah untuk dipatuhi masyarakat Islam. Yang timbul malah tuduhan NU bersikap "mencari muka" terhadap Sukarno.

Namun Zainul dengan tegas menyatakan, "Presiden, pemerintah, dan parlemen adalah waliyul amri dharuri bissyaukah yang otoritasnya harus dipatuhi. Bagi yang memberontak hukumnya sudah jelas." Menanggapi pernyataan tersebut ulama Sulawesi Selatan, misalnya kemudian mencabut dukungannya terhadap DI/TII sebagai "pemerintah sah".

Krisis lainnya terjadi pada 25 November 1954, manakala kabinet harus melakukan reshuffle karena keluarnya menteri-menteri PIR sebagai dampak perselisihan internal partai.

Zainul Arifin kemudian menjadi satu-satunya wakil perdana menteri hingga kabinet pun dinamai Kabinet Ali-Arifin. Namun, kewenangan mengurusi masalah keamanan tak kunjung dilimpahkan kepadanya. Kabinet memang langsung sibuk melaksanakan Konferensi Asia Afika di Bandung.

Lagi-lagi konferensi antarnegara-negara baru merdeka dan masih terjajah dari kedua benua ini dikritisi dengan diplesetkan menjadi "Konferensi Asal-Asalan" oleh oposisi. Padahal banyak negara Afrika yang berhasil mencapai kemerdekaannya karena termotivasi oleh Dasa Sila Bandung.

Pemilu pertama, yang sejak 1946 ingin dilaksanakan namun baru terlaksana selama pemerintahan Kabinet Burhanuddin Harahap, sudah dimatangkan persiapannya sejak era Kabinet Ali-Arifin.

Sebuah insiden terjadi ketika PBNU menyurati menteri-menteri dalam kabinet untuk menyikapi PKI yang slogan partainya dirasa menyesatkan. Setelah dikonfrontir, akhirnya PKI bersedia mencabut slogan partainya itu.

Dalam periode kabinet ini pula Zainul Arifin ikut dalam rombongan Presiden melakukan muhibah kenegaraan sekaligus melaksanakan ibadah Haji ke Tanah Suci.

Sebelum berangkat, ditengah-tengah kisruh di kalangan militer, Perdana Menteri akhirnya melimpahkan kewenangan sebagai Menhan ad interim kepada Zainul Arifin setelah akhirnya Iwa Kusumasumantri mengundurkan diri pada 12 Juli 1955 atas desakan mosi tidak percaya yang diusung Ketua Seksi Keamanan Parlemen, Zainul Baharuddin. Namun, dua hari setelah rombongan Presiden berangkat Kabinet Ali-Arifin membubarkan diri.


Ario Hemly, penulis buku KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri Ikhlas Membangun Negeri
Share:

Kiai Shihah Berteriak, Opsir Belanda Pun Pingsan

Suatu ketika, seseorang bernama Abdussalam naik kendaraan. Di depannya ada kendaraan lain yang digunakan opsir Belanda. Abdussalam pun mendahului kendaraan yang dinaiki orang Belanda itu. 

Merasa dirinya superior, orang Belanda ini tersinggung karena kendaraannya disalip kendaraan orang pribumi. Lalu dia mengarahkan moncong senjatanya ke arah Abdussalam. 

Kali ini, orang Belanda berhadapan dengan pribumi yang lain dari yang lain. Abdussalam bukannya berlari, namun malah berteriak dengan keras sehingga orang Belanda tersebut jatuh pingsan. 

Berteriak dalam bahasa Arab adalah shaihah yang di lidah orang Jawa menjadi shihah. Maka, sejak saat itu orang-orang memanggil Abdussalam dengan sebutan Mbah Shihah.

Siapakah Abdussalam?

Dia adalah salah sorang tokoh yang turut serta dalam Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro (1825-1830). Ada beberapa pembantu tokoh ini yang berhasil meloloskan diri dari sergapan tentara penjajah Belanda, di antaranya Abdussalam itu. 

Dalam pelariannya, Abdussalam sampai di kampung yang disebut Tambak Beras, Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang, Kabupaten jombang. Abdussalam bersama 25 pengikutnya sampai di Tambakberas pada I838. 

Kiai Shihah ini adalah pendiri pesantren Tambakberas, pesantren yang kelak diasuh oleh Kiai Wahab Hasbullah perintis, pendiri, dan penggerak NU. 

Awalnya pesantren ini dinamakan dengan Pesantren Selawe yang dalam bahasa Jawa berarti “pesantren duapuluh lima” karena kiai Shihah saat datang ke Tambakberas diikuti 25 orang pengikutnya. 

Kiai Shihah mempunyai dua murid yang sangat disayanginya di antara murid-murid yang lain. Keduanya itu adalah Said dan Utsman yang diambil menantu oleh Kiai Shihah. Dari kedua murid ini kelak akan lahir KH Wahab Hasbullah dan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. (Abdullah Alawi)

Source: www.nu.or.id
Share:

Blog Archive

Support